Selasa, 14 Februari 2012
The New Topographic
Kamis, 09 Februari 2012
Trent Parke
Oh ya, sudahkah saya bilang bahwa kedua buku telah dapat di pre-order di Amazon menggunakan kedua link diatas. #hitung-hitungnambahpemasukanuntukbelibuatdirisendiri
Jumat, 27 Januari 2012
Deutscher Fotobuchpreis 2011 (Update #1)
Seperti yang dijanjikan sebelumnya bahwa saya akan berusaha mereview beberapa buku yang terdapat dalam pameran buku foto Jerman. Beberapa hari kemarin saya sengaja menyempatkan diri kesana, sedikit menutup mata terhadap betapa indahnya cahaya sore beberapa hari ini. Dalam kunjungan hari ini, saya segera menyadari bahwa saya telah melewatkan beberapa buku-buku menarik pada pembukaan pameran minggu lalu. Beberapa buku seperti buku karya John Gossage – The Thirty Two Inch Ruler, buku dari pameran “The New Topographic”, dan buku karya Tobias Zielony – Story/ No Story yang tidak saya sebutkan dalam posting sebelumnya. Pada posting ini saya hanya mereview buku karya Andrej Krementschouk yang berjudul "Come Bury Me". Buku ini berisi foto tentang kehidupan sekelompok orang di Rusia. Sekelompok orang ini kebetulan hidup dalam kondisi sangat miskin yang mengharuskan mereka tinggal bersama hewan. Saya tidak tahu apakah buku ini merupakan portret yang tepat untuk menggambarkan kehidupan orang miskin di Rusia. Buku ini menarik karena saya tidak langsung dapat memahami benang merah buku ini hanya dari melihat foto-foto yang terdapat didalamnya.
Hanya melihat dari foto-foto yang terdapat dalam buku ini, saya melihat bahwa buku ini terbagi dalam 2 bagian. Bagian pertama (dan terbesar) terdiri dari foto-foto yang memperlihatkan sekelompok orang sedang minum-minum dan bersenang-senang dalam sebuah ruangan sempit. Sedangkan bagian kedua terdiri dari foto-foto reruntuhan bangunan yang terbakar. Rupanya setelah membaca essai dalam buku ini, yang ditulis sendiri oleh Krementschouk, saya baru tahu bahwa foto-foto bagian kedua adalah foto-foto reruntuhan bangunan tempat kejadian dalam foto bagian pertama berlangsung. Kemana orang-orang itu berada sekarang ataupun bagaimana nasib mereka terkait kebakaran tersebut sampai sekarang tidak diketahui oleh Krementschouk. Foto-foto dalam bagian pertama terasa seperti snapshot, Krementschouk memang terlihat tidak memiliki waktu lama dalam melakukan pendekatan terhadap subyek. Melihat dari pakaian yang dikenakan oleh orang-orang dalam foto tersebut, saya pikir Krementschouk hanya memiliki dua kesempatan untuk memotret kehidupan mereka.
Yang disayangkan adalah kualitas produksi bukunya sendiri tidak terlalu istimewa. Salinan buku yang saya lihat di pameran dalam kondisi terlepas dari sampulnya. Desain sampul buku ini yang sebenarnya menarik perhatian saya untuk membacanya. Kertasnya terasa tebal namun entah mengapa tidak terasa bagus untuk buku ini. Foto-fotonya yang dicetak full bleed membuatnya terasa terlalu penuh bagi saya. Namun hal-hal ini tidak menghentikan saya untuk menyukai buku ini.
Selasa, 17 Januari 2012
Deutscher Fotobuchpreis 2011
Dari beberapa buku foto yang saya sempat intip terdapat beberapa buku yang langsung menarik perhatian saya. Buku-buku seperti Michael Wolf - Tokyo Compression Revisited
Jangan salah karena tidak semua buku yang dipamerkan bergenre seperti itu. Melihat dari koleksi yang ditampilkan rasanya terdapat cukup buku yang mampu memuaskan berbagai kalangan. Jangan lupa juga bahwa selain dari isi foto yang ditampilkan, banyak buku yang ditampilkan juga bisa menjadi referensi bagi desainer buku atau penerbit buku.
Sedikit komplain, sayang sekali saya tidak menemukan buku yang justru saya tunggu-tunggu yaitu bukunya Stanley Greene Black Passport
Selama beberapa minggu kedepan saya akan mencoba untuk memposting beberapa buku-buku yang bagi saya menjadi favorit dalam pameran ini.
Kamis, 10 November 2011
Susan Paulsen "Tomatoes On The Back Porch"
Adakalanya perjudian itu berbuah manis, buku ini ternyata mengisi kebutuhan saya terhadap foto-foto yang simple. Hal-hal simple seperti anak anjing yang tertidur atau jemuran pakaian dihalaman belakang. Hal-hal yang kadang-kadang terlewatkan oleh saya dan mengingatkan saya bahwa hal-hal ini dapat menjadi sangat fotogenik didepan kamera.
Yang menjadi poin penting dan positif dalam buku ini adalah bagaimana buku ini membagi bagian foto berwarna dan hitam putih. Pembagian ini dilakukan dengan menempatkan esai dari Paulsen sendiri yang memberikan perspektif mengenai apa yang ingin dicapai melalui foto-foto ini. Walau secara porsi, foto hitam putih mendapatkan porsi yang lebih besar, namun foto berwarna juga mempunyai feel yang sama dan tidak mengganggu keseluruhan alir pikiran dalam buku ini. Esai dari Robert Benton juga menjadi penutup yang menggoda kita untuk membuka buku ini dari awal sekali lagi.
Kualitas cetakan dari buku ini standar Steidl yang terasa sangat baik dan seimbang. Buku ini didesain dengan simple namun tetap terasa mahal saat dipegang. Tambahan yang menarik pada rak buku saya.
Edisi Pertama, 2004
Penerbit: Steidl, Maison Europeene de la Photographie, Paris
Selasa, 04 Oktober 2011
Klavdij Sluban "East to East"
Saya mengenal karya Sluban dari rekomendasi teman pada saat saya berusaha menjual lensa Leica miliknya. “Ini lensa dipakai oleh Trent Parke dan Sluban lho”, kata dia. Saya mengetahui karya Trent Parke namun saya belum pernah dengar sama sekali mengenai Klavdij Sluban sebelumnya. Siapa Sluban? Terkejutlah saya pada saat mengetahui bahwa dia pernah pameran di Jakarta, motret di Indonesia, dan memberikan workshop juga. Argh, saya selalu ketinggalan hal-hal baik. Buka-buka situsnya mengertilah saya mengapa teman saya sangat menyukai karya foto dari Sluban. Foto-foto karya dia memiliki suatu gaya yang sangat personal, sulit untuk menjelaskannya, kita seperti dapat memahami seperti apa karakter seorang fotografer dari foto-fotonya.
Seperti itulah East to East, saya belakangan meneliti kecil-kecilan mengenai Klavdij Sluban melalui internet. Berusaha mencari apa yang menjadi membuatnya menjadi ini. Rupanya backgroundnya sebagai seorang yang mempelajari literatur membuat foto-fotonya memiliki suatu rasa puitis. Bagi saya East to East sangatlah puitis, foto-foto hitam putih yang gelap, grainy dan personal. Walau mungkin bukan selera semua orang, tapi begitu melihatnya sangat mudah untuk menentukan apakah kita menyukai atau tidak. Saya melihat foto-foto ini tidak mengenai decisive moment dan tidak mengenai kesempurnaan teknis, namun mengenai keseimbangan antara keduanya. Ini juga bukan foto jurnalisme, hanya bagaimana seorang fotografer berusaha menerjemahkan apa yang dia rasakan pada saat dia traveling ke Negara-negara timur baik Eropa timur maupun Asia.
Buku ini berukuran besar (10.7 x 11.5 inchi) namun tidak terasa overwhelming, cukup pas untuk mempertunjukkan foto-fotonya dalam ukuran yang cukup ideal. Kualitas cetakannya juga sangat baik dengan kertas yang berkualitas juga.
Sabtu, 27 Agustus 2011
William Eggleston “For Now”
William Eggleston selalu menarik perhatian saya, karena foto-foto colornya akan hal-hal yang biasa namun sangat catchy. Foto-foto yang telah lama menghiasi cover album-album band-band favorit saya tanpa saya sadari itu foto karya Eggleston. Dan saya teringat pertama kali tergila-gila akan karya dia dan pada saat yang bersamaan saya masih kebingungan kenapa dia memotret hal tersebut. For Now merupakan hasil editan dari Michael Almereyda dari archive yang dimiliki oleh Eggelston foundation. Foto-foto ini belum pernah dipublikasikan sebelumnya dan banyak terdapat foto-foto teman maupun keluarga Eggleston sendiri. Bagi seseorang yang sering memotret pasti pernah merasakan bahwa banyak foto-foto yang saat pertama kali dilihat belum terasa baik setelah beberapa waktu justru foto-foto yang dulu dianggap buruk malah terasa lebih cocok dengan suasana saat ini. For Now justru membuktikan bahwa sebuah foto yang tidak dianggap bagus oleh Eggleston sendiri justru menjadi standout dimata orang lain (Walaupun ini tidak berarti saya menyukai semua foto yang Almereyda pilih untuk buku ini). Hal ini menjadi menarik karena dalam salah satu essay dalam buku ini, Eggleston memberikan semacam persetujuan terhadap editing buku ini dimana ia menyatakan bahwa buku ini dapat menjadi album keluarga bagi dirinya.
Buku ini berukuran sangat besar dengan kualitas cetakan yang bikin menganga. Warna-warna khas Eggleston terlihat sangat cantik dalam cetakan buku ini. Sayangnya saya tidak suka sama sekali terhadap dustcovernya yang terlihat seperti dilipat asal-asalan. Packaging dari Amazon sendiri sangat buruk hingga buku yang saya terima terdapat bekas penyok sampai ke halaman dalam. Untungnya penyok tersebut terletak di pinggir buku hingga tidak merusak foto tersebut.
Penerbit: Twin Palms Publishing