Saya mengenal karya Sluban dari rekomendasi teman pada saat saya berusaha menjual lensa Leica miliknya. “Ini lensa dipakai oleh Trent Parke dan Sluban lho”, kata dia. Saya mengetahui karya Trent Parke namun saya belum pernah dengar sama sekali mengenai Klavdij Sluban sebelumnya. Siapa Sluban? Terkejutlah saya pada saat mengetahui bahwa dia pernah pameran di Jakarta, motret di Indonesia, dan memberikan workshop juga. Argh, saya selalu ketinggalan hal-hal baik. Buka-buka situsnya mengertilah saya mengapa teman saya sangat menyukai karya foto dari Sluban. Foto-foto karya dia memiliki suatu gaya yang sangat personal, sulit untuk menjelaskannya, kita seperti dapat memahami seperti apa karakter seorang fotografer dari foto-fotonya.
Seperti itulah East to East, saya belakangan meneliti kecil-kecilan mengenai Klavdij Sluban melalui internet. Berusaha mencari apa yang menjadi membuatnya menjadi ini. Rupanya backgroundnya sebagai seorang yang mempelajari literatur membuat foto-fotonya memiliki suatu rasa puitis. Bagi saya East to East sangatlah puitis, foto-foto hitam putih yang gelap, grainy dan personal. Walau mungkin bukan selera semua orang, tapi begitu melihatnya sangat mudah untuk menentukan apakah kita menyukai atau tidak. Saya melihat foto-foto ini tidak mengenai decisive moment dan tidak mengenai kesempurnaan teknis, namun mengenai keseimbangan antara keduanya. Ini juga bukan foto jurnalisme, hanya bagaimana seorang fotografer berusaha menerjemahkan apa yang dia rasakan pada saat dia traveling ke Negara-negara timur baik Eropa timur maupun Asia.
Buku ini berukuran besar (10.7 x 11.5 inchi) namun tidak terasa overwhelming, cukup pas untuk mempertunjukkan foto-fotonya dalam ukuran yang cukup ideal. Kualitas cetakannya juga sangat baik dengan kertas yang berkualitas juga.
0 komentar:
Poskan Komentar